Portal Bungo - Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Jambi Terapkan Program Sayur Asuh di Kelurahan Paal Merah Kota Jambi yang berlangsung pada bulan September 2020, Adapun judul dari program ini adalah:

"Manajemen Sayur dan Diversifikasi Produk Guna Meningkatkan Kemandirian dan Kesejahteraan Keluarga Petani" (Solusi Bagi Petani Sayur dan UMKM Olahan Sayur Dalam Menghadapi New Normal Covid-19).

Oleh: Drs. Agus Syarif, MBS dan Istiqomah Malinda SB, S.E., M.M

COVID-19 ditetapkan menjadi pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia - World Health Organization (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020. Covid-19 telah masuk bulan keempat di Indonesia, dampaknya tidak hanya dari sisi kesehatan masyarakat tapi juga pada aspek kehidupan lainnya, termasuk petani sayur dan kinerja usaha pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Perhatian Pemerintah dan masyarakat terhadap aspek kesehatan dan ekonomi menjadi topik ulasan berbagai media mainstream dan media sosial setiap hari, hingga saat ini.

Pemerintah mengambil kebijakan yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan beberapa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk beberapa daerah yang terdampak terhadap pandemic covid-19. Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2020. Aturan tersebut telah mengurangi aktivitas bisnis secara menyeluruh, bukan saja bagi perusahaan berskala besar tapi juga pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Khusus untuk Usaha Mikro dan Kecil mengalami penurunan yang lebih besar dalam aktivitas bisnis dibandingkan dengan perusahaan menengah dan besar. Salah satu faktor penyebab adalah berubahnya preferensi konsumen terhadap makanan dan kuliner. Konsumen di masa new normal cenderung memperhatikan aspek kesehatan, keamanan dan kenyaman. Konsumen memperhatikan higenitas dari makanan, kepercayaan terhadap produsen, meningkatkan imunitas tubuh dan sayuran-sayuran herbal.

Usaha Mikro dan Kecil yang dijalankan oleh kelompok ibu-ibu keluarga petani di RT.35 Kelurahan Paal Merah Kota Jambi termasuk yang terdampak dari pandemic covid-19. Usaha yang telah dibangun dari tahun 2015 terpaksa dihentikan karena menurunnya omset dari penjualan produk kuliner mereka. Hal ini hampir dialami semua pelaku UMKM yang menghentikan operasi karena belum mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen dan ketidakmampuan untuk mengimplementasikan tindakan-tindakan kesehatan preventif sesuai protokol kesehatan covid-19.

Lebih lanjut dampak dari pandemic covid-19 juga dialami petani sayur. Dalam hal sektor, bisnis hasil pertanian telah mengalami kendala terbesar dalam akses ke input dan pasar untuk output karena langkah-langkah pengawasan seperti pembatasan transportasi, karantina, jarak sosial, dan di pasar tradisional serta menurunnya permintaan dari restaurant dan hotel. Konsekuensi dari menurunnya permintaan sayur hasil panen petani berdampak kepada menurunnya harga jual sayur. Preferensi konsumen yang berubah (dengan memperhatikan kesehatan sebagai prioritas) juga menjadi tantangan bagi petani sayur tradisional, ada kecenderungan konsumen lebih memilih sayur hidroponik di banding sayur yang diolah secara tradisonal. Apalagi kompetitor sayur hidroponik  gencar mempromosikan panen dengan menggunakan media sosial, dibandingkan petani sayur tradisional yang selama ini menggantungkan penjualan hasil panen kepada penampung (tengkulak).

Oleh karenanya perlu upaya untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Petani Sayur tradisional dan memberi pengetahuan dan keterampilan Manajemen dalam menjalankan usaha secara profesional di masa new normal sebagai usaha membangun kemandirian ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan.

Permasalahan Mitra

Pandemic Covid-19 sudah berlangsung dari bulan Maret 2020 di Indonesia dan menyebar ke daerah-daerah hingga saat ini, termasuk kota Jambi. Usaha Mikro dan  Kecil yang dijalankan oleh kelompok ibu-ibu keluarga petani di RT.35 Kelurahan Paal Merah Kota Jambi termasuk yang terdampak dari pandemic covid-19. Usaha yang telah dibangun dari tahun 2015 terpaksa dihentikan karena menurunnya omset dari penjualan produk kuliner mereka.

Lebih lanjut dampak dari pandemic covid-19 juga dialami petani sayur di lokasi yang sama, RT 35 Kelurahan Paal Merah. Permintaan sayur hasil panen petani menurun dan berdampak kepada menurunnya harga jual sayur. Harga sayur dirasakan oleh petani sudah berada pada skala tidak ekonomis, biaya penanaman dan perawatan lebih tinggi dibanding harga jual hasil panen sayur. Preferensi konsumen yang berubah (dengan

memperhatikan kesehatan sebagai prioritas) juga menjadi tantangan bagi petani sayur tradisional, ada kecenderungan konsumen lebih memilih sayur hidroponik di banding sayur yang diolah secara tradisonal. Apalagi kompetitor sayur hidroponik gencar mempromosikan panen dengan menggunakan media sosial, dibandingkan petani sayur tradisional yang selama ini menggantungkan penjualan hasil panen kepada penampung (tengkulak).

Solusi dan Target

Solusi yang ditawarkan pada program pengabdian masyarakat ini adalah mempertemukan pelaku UMKM dan petani sayur untuk membangun kolaborasi dan melakukan diversifikasi produk yang mengikuti perubahan preferensi konsumen dalam menjalankan masa new normal covid-19.

Anggota UMKM Daun Sayur dan Petani Sayur yang tergabung meningkat kesejahteraannya guna mewujudkan kemandirian ekonomi .Tersedianya komunikasi pemasaran secara online melalui media sosial (Instagram). 

Pelaksanaan Pengabdian Masyarakat

Pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di RT.35 Kelurahan Paal Merah dilakukan dengan menggunakan metode penyuluhan, pelatihan dan praktek. Ada pun sistematika pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah sebagai berikut: 

a.Tahap Pertama (Metode Penyuluhan) :

Melakukan sosialisasi dan melatih mahasiswa dalam memahami program diversifikasi produk dan pengambilan dokumentasi untuk disiapkan sebagai pendamping lapangan pada saat berlangsungnya pelatihan di lapangan.

Tahap melakukan sosialisasi dan melatih dilaksanakan untuk tim mahasiswa sebagai tim pelaksana lapangan dalam memahami program sayur asuh dan pengambilan dokumentasi untuk disiapkan sebagai pendamping lapangan telah dilaksanakan di ruang Inkubator Bisnis Teknologi Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Jambi (IBT LP2M UNJA) pada tanggal 17 September 2020 dan Petani sayur beserta pelaku UMKM produksi olahan sayur.

Tim Pengabdian Masyarakat melakukan inventarisasi kondisi kebun sayur dan rumah produksi olahan sayur dengan cara mengunjungi dan melakukan observasi di lokasi kebun, guna menginventarisasi dan mengevaluasi

b.Tahap Kedua (Metode Penyuluhan) :

UMKM dan Petani Sayur yang ditetapkan sebagai peserta diberikan pemahaman tentang kewirausahaan dan manajemen usaha melalui penyuluhan dalam kerangka proses meningkatkan nilai tambah, mensejahterakan masyarakat dan menghadapi kondisi ketidakpastian usaha.

UMKM dan Petani Sayur yang ditetapkan sebagai peserta diberikan pemahaman tentang kewirausahaan dan manajemen usaha melalui penyuluhan dalam kerangka proses meningkatkan nilai tambah, mensejahterakan masyarakat dan menghadapi kondisi ketidakpastian usaha.  Pelaksanaan penyuluhan dilakukan dua kali, yaitu pada tanggal  19 September dan dilanjutkan pada tanggal 29 dan 30 September 2020

Tim pelaksana pengabdian memformulasi manajemen sayur asuh dan disampaikan pada saat pemberian materi. Perlu ada diversifikasi produk dan penambahan varian pada rumah produksi UMKM olahan sayur.  

Penyampaian Manajemen sayur asuh dan olahan sayur dilakukan di rumah petani dan di kebun sayur oleh narasumber, Agesha Marsyaf, S,I,Kom, M.M. (Sertifikasi BNSP pendamping UMKM).

Pelatihan Kewirausahaan penting diberikan kepada UMKM pengolahan sayur guna membentuk mindset berani menghadapi ketidakpastian (risiko) dalam berbisnis. Penguatan materi Kewirausahaan juga pada sisi melakukan branding produk, baik secara offline maupun online.

c. Tahap Ketiga Inventarisasi Kondisi Lahan, Membuat Pelindung dan Membangun Lokasi Hidroponik Sayuran Herbal


Tim Pengabdian Masyarakat melakukan inventarisasi kondisi lahan dengan cara mengunjungi dan melakukan observasi di lokasi tersebut, guna membuat pelindung tanaman dan hidroponik sayuran herbal. Proses pembangunan berjalan lancar dan bentuk akhir dari pelindung tanaman dan sayuran herbal menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang datang, baik sebagai pengasuh sayur maupun pengunjung yang datang ingin memetik sayur sendiri dalam rangkaian wisata sayur (pick your own vegetables).  Lokasi ini selain menyediakan sayuran herbal untuk dijual (dalam bentuk pot), juga menjadi tempat menarik (objek spot) untuk berphoto ria (selfie) bagi pengunjung dan keluarga pengasuh sayur.


d. Tahap Kelima (Metode Praktek Lapang)

Praktek membuat mie sayur, rujak sayur dan salad bagi UMKM. Dilanjutkan dengan membuat profil usaha secara dinamis yang  ditampilkan  dengan menggunakan media sosial (Instagram).  Link untuk mengakses sayur asuh dapat melalui akun berikut:  https://www.instagram.com/sayurasuh/

Olahan sayur petani berupa sawi hijau, bayam merah dan kangkung diolah menjadi produk turunan (diversifikasi) berupa mie sayur dan pangsit. Instruktur untuk praktek pembuatan mie dan pangsit disampaikan oleh Pendrawati (owner Sambal Tempoyak dan Seluang Crispy). Sedangkan Narasumber perhitungan kelayakan usaha disampaikan oleh NH. Bestamir.


Pelatihan pembuatan mie dan pangsit kepada istri-istri petani dilaksanakan pada tanggal  10 Oktober dan dilanjutkan analisa kelayakan diversifikasi olahan sayuran pada tanggal 11 Oktober.  Produk diversifikasi disamping mie sayur, juga pangsit sayur.


Program sayur asuh berlanjut dengan terciptanya wahana wisata sayur dengan menginformasikan kepada masyarakat, terutama pengasuh sayur, saat panen raya sayur, yang pelaksanaannya dilakukan setiap akhir bulan. 

Wisata panen sayur, Pick your own (PYO) vegetables, diminati oleh seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang tua. Dan juga adakalanya dikunjungi untuk acara reuni  dengan tema petik sayur segar.


Program Sayur Asuh di Kelurahan Paal Merah Kota Jambi, dalam perkembangannya mencapai tujuan yang digagas oleh Tim pelaksana pengabdian masyarakat yang didanai melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Jambi, yakni menuju kemandirian petani sayur dan mensejahterakan keluarga petani.